Tahun ini, Drag City, label rekaman indie yang berbasis di Chicago, Amerika Serikat, ini akan merilis ulang album keempat, Timeline, milik kelompok Suarasama pada 12 Mei 2023. Menjelang perilisan ulang itu, Suarasama merilis tiga lagu, yakni ”Untukmu yang Berperang (To the Wars)”, ”Sea Fish”, dan ”Timeline” di seluruh platform musik digital. Perilisan tiga lagu itu dilajukan Suarasama pada rentang 23 Februari hingga 26 April 2023.
Album Timeline awalnya dirilis pada tahun 2013 oleh Spacerec dan Syaelendra. Setelah satu dekade menemani pendengar, kini akan muncul dalam bentul vinil dan digital dalam platform musik digital. ”Rencana perilisan ulang album Timeline ini oleh Drag City sudah muncul sejak akhir 2020 yang lalu, tetapi baru akan terwujud tahun ini,” kata salah satu motor sekaligus vokalis Suarasama, Rithaony Hutajulu.
Suarasama merupakan kelompok musik beraliran world fusion yang dimotori oleh pasangan suami-istri Irwansyah Harahap dan Rithaony Hutajulu. Keduanya etnomusikolog dari Universitas Sumatera Utara, Medan. Mereka membentuk Suarasama pada tahun 1995 sekembalinya dari studi etnomusikologi di University of Washington.
Suarasama menggali berbagai budaya musik dunia, seperti musik tradisional Afrika, Timur Tengah, India, Sufi Pakistan, Eropa Timur, dan Asia Selatan. Untuk musik tradisi Nusantara, mereka juga memasukkan unsur tradisional mereka sendiri, yaitu tradisi Batak dan Melayu Sumatera Utara.
Berkat karya-karyanya bersama Suarasama, pada 2017, Irwansyah mendapat Anugerah Kebudayaan Indonesia dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI sebagai pelopor world music di Indonesia. Adapun Rithaony Hutajulu mendapat penghargaan Anugerah Kebudayaan Indonesia dari kementerian yang sama sebagai pelestari musik Batak pada 2021.
Suarasama telah memproduksi empat album musik, yakni Fajar di Atas Awan (1998), Rites of Passage (2002), Lebah (2008), dan Timeline (2013). Album Fajar di Atas Awan diproduksi dalam bentuk keping CD oleh Radio France Internationale (RFI), France 1998. Lagu yang berjudul sama dengan album tersebut, Fajar di Atas Awan, dipublikasi sebagai lagu penutup dalam Music of Indonesia 20: Indonesian Guitars by the Smithsonian Folkways Recording, 1999 di Washington DC, USA.
Pada tahun 2008, label rekaman Amerika Serikat, Drag City, merilis ulang album pertama Suarasama, Fajar di Atas Awan, dalam bentuk vinil dan CD dan memasarkannya di sejumlah negara di dunia. Pada tahun ini album tersebut dianggap sebagai ”One of the 5 best World Music album of the year” oleh San Francisco Chronicle (SFGate.Com); ”One of the 10 best World Music album Of the Year” oleh UnCut Magazine, London; dan ”One of the 10 Best Album of October, 2008” oleh Global Rhythm Magazine, AS.
Karya musik Suarasama juga dipakai sebagai bagian dari isi dan ilustrasi dari film [un]Common Sounds : exploring the contribution of music and the arts in fostering sustainable Peacebuilding among Muslims and Christians, oleh Fuller Theological Seminary, AS (2013). Pada 2021 Suarasama juga telah merilis sejumlah singel mereka seperti ”Syair Cinta”, ”Maliqul Quddus”, ”Selayang Pandang”, dan ”Rainforest Dream”.
November 2021, Irwansyah berpulang dan menjadi kehilangan besar bagi Suarasama. Rithaony Hutajulu dan anggota Suarasama bertekad meneruskan perjuangan Suarasama. Perilisan ulang album Timeline merupakan salah satu bentuk dan hasil tekad itu. (*)


